Musim Kemarau Mundur, Berkah Bagi Petani Tadah Hujan

user
samian 20 Juni 2020, 17:20 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro - Musim kemarau tahun ini tergolong mundur. Mundurnya cuaca alam ini justru berkah bagi sebagian  petani tadah hujan sekitar proyek pengembangan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang berpusat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Pasalnya selain masih sesekali turun hujan, kondisi air sungai yang ada masih bisa dimanfaatkan para petani dalam mencukupi kebutuhan air untuk tanaman pasca panen padi kedua.

Salah satu petani Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngasem, Dasir, mengungkapkan, musim ketigo (kemarau) tahun ini mundur dibandingkan tahun lalu. Pada tahun lalu di bulan April sampai Mei sudah kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air. Saat ini pertengahan bulan Juni air sungai masih banyak dan bisa dimanfaatkan untuk mengairi tanaman, baik jagung, kacang tanah, cabai, dan lain sebagainya.

"Alhamdulillah sementara air masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pertanian," kata Dasir, kepada Suarabanyuurip.com, disela-sela tanam jagung pasca panen kedua.

Segendang seirama diungkapkan petani Desa Butoh, Masir. Pria yang berdomisili dipinggiran hutan ini mengaku, mundurnya musim ketigo tahun ini menjadikan berkah bagi petani tadah hujan. Karena masih belum mengalami kesulitan air untuk mencukupi kebutuhan tanaman pertaniannya.

"Rata-rata petani disini adalah tadah hujan. Untuk tahun ini merasa lega karena masih mampu untuk memenuhi kebutuhan air. Baik untuk mengairi padi tanam kedua yang belum panen. Juga tanaman pertanian lainnya yang baru mulai tanam pasca panen kedua," tandasnya.

Diharapkan harga hasil panen petani tahun ini tetap bagus. Sehingga para petani bisa lebih meningkatkan perekonomian untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Untuk harga kacang tanah kemarin itu lumayan baiklah. Perkilogramnya Rp5.600 sampai Rp5.800. Semoga tanam ketiga ini harganya nanti tidak turun, dan tetap stabil. Lebih-lebih bisa naik lagi," imbuhnya.(sam)

Kredit

Bagikan