Dukung KPK, Aktivis Tuban Gelar Teatrikal

user
nugroho 08 Oktober 2012, 13:59 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Edy Purnomo

Tuban - Belasan aktivis  di Kabupaten Tuban, Jatim, menggelar aksi teatrikal sebagai bentuk dukungan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengusut kasus Simulator SIM di tubuh Polri yang coba dilemahkan dengan dugaan kriminalisasi. Aksi ini dilakukan menjelang pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal perseteruan KPK versus Polri di bundaran patung Letda Sutjipto, Senin (8/10/2012).

"Kami mendukung KPK, yang saat ini sengaja dipojokkkan dengan berbagai alasan," kata Fathur, orator aksi.

Aktivis dari Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Stitma, dalam aksinya beradegan dengan meunjukkan dua orang yang sedang bertengkar memperebutkan sebuah kasus, sebagai simbol dua penegak hukum (KPK dan Polri)  yang saat ini tengah terlibat perseteruan penanganan kasus dugaan korupsi simulator SIM.

"Ini gambaran kondisi KPK dan Polri saat ini," tambah Fathur.

Mereka menganggap, Polri saat ini tengah berupaya dalam melemahkan KPK, menyusul beberapa upaya yang dilakukan untuk menghambat proses penyidikan kasus simulator SIM dan upaya beberapa petugas kepolisian saat mendatangi KPK beberapa lalu.

"Untuk itu, kami mendukung KPK dalam upaya penegakkan hukum," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua PK PMII Stitma Zaenal Arifin mendesak, agar SBY bertindak cepat dalam penanganan kasus ini. Karena apabila ini dibiarkan, perseteruan dua penegak hukum itu tidak akan pernah berakhir.

"KPK dan Polri seharusnya saling mendukung, jangan sekedar mengamankan posisi saja," ujarnya.
Menurut dia, apabila SBY tidak mampu menyelesaikan masalah ini harus mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI.

Aksi yang diikuti belasan Mahasiswa ini digelar di bundaran patung Letda Sutjipto, setelah beradegan teatrikal, massa kemudian melanjutkan aksinya ke gedung DPRD Tuban dan berorasi disepanjang Jalan Teuku Umar Tuban.

Seperti yang dilansir beberapa media nasional, hubungan KPK-Polri memanas setelah sejumlah perwira dari Polda Bengkulu dan Polda Metro Jaya menggeruduk KPK, Jumat (5/10/2012) malam. Para perwira polisi tersebut hendak menangkap penyidik KPK, Novel Baswedan, yang disangka terlibat penganiayaan saat menjadi Kasat Reskrim di Bengkulu pada 2004 silam. Sejauh ini, KPK dan Polri punya fakta yang berbeda mengenai kasus tersebut. (edp/suko)

Kredit

Bagikan