Warga di Dua Desa Hentikan Proyek Blok Cepu

user
nugroho 17 September 2012, 12:19 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro  – Warga di Dua Desa di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, yakni Dusun Temlokorejo, Desa Gayam dan Dusun Sukorejo, Desa Bonorejo, menghentikan proyek Blok Cepu. Mereka memblokir jalan akses road yang menjadi jalan utama keluar masuknya logistik proyek.

Pemblokiran akses utama proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 Banyuurip  itu dilakukan karena tuntutan kompensasi tunai akibat polusi debu proyek pengurukan tidak dipenuhi Mobil Cepu Limited (MCL), operator migas Blok Cepu maupun kontraktornya PT. Tripatra Engineers & Constructors.

Pemblokiran dilakukan di dua titik yakni di jalan akses road di Dusun Sukorejo (Puduk) dan di Dusun Temlokorejo - Kaliglonggong menuju Well Pad C Banyuurip di Desa Gayam.

Dari pantauan, pemblokiran jalan di Well Pad C oleh warga Dusun Temlokorejo ini dilakukan setelah perundingan antara  warga dengan PT. Tripatra dengan MCL, Senin (17/9/2012) tadi, menemui jalan buntu. Baik MCL maupun Tripatra tak mau memenuhi tuntutan kompensasi tunai yang diajukan warga.

Perundingan itu merupakan tindaklanjut pertemuan Kamis, (13/9). Dimana warga Temlokorejo juga sempat memblokir jalan akses road Well Pad C. Namun pemblokiran itu dapat dihentikan setelah dua tuntutan warga dipenuhi MCL dan Triptra.

Dua tuntutan yang dipenuhi itu adalah sendang kelor tidak akan ditutup dan penyiraman jalan akses road secara maksimal. Bahkan dalam perundingan kali ini muncul tuntutan baru dari warga yakni, jalan di Dusun Kaliglonggong - Temlokorejo tidak boleh ditutup.

Comunnity Affairs Tripatra, Budi Karyawan menyampaikan, sesuai hasil rapat dengan manajemen dan MCL dari tiga tuntutan itu satu tuntutan yang tidak bisa dipenuhi. Yakni pemberian kompensasi secara tunai. Sebagai ganti tuntutan itu, pihak Tripatra menawarkan pemberian pelayanan kesehatan gratis secara berkala dalam stiap dua minggu sekali.

“Dan kita akan mendirikan pos kesehatan di Temlokorejo," kata Budi Karyawan.

Dijelaskan, terkait dengan debu, akan diupayakan untuk menguranginya dengan cara memaksimalkan penyiraman dengan menambah mobil tanki.

"Saya akan memaksimalkan penyiraman yang ada. Agar, bisa mengurangi debu tersebut,"ungkapnya.

Kepala desa Gayam, Pujiono dihadapan warganya menegaskan, terkait dengan Sendang Kelor tidak akan ditutup. Lain itu, terkait dengan kompensasi sudah pernah disampaikan MCL, BPMIGAS dengan difasilitasi Pemkab Bojonegoro tetap tidak bisa disetujui.

"Tidak ada kopensasi secara tunai. Namun, diberikan wujud bangunan infrastruktur desa,"tegas Pujiono.

Berbagai jawaban yang ditawarkan tersebut tidak bisa diterima warga. Karena warga tetap bersikukuh meminta kompensasi tunai sebagai ganti rugi polusi debu yang sudah menganggu kesehatan warga.

“Kami tetap menutup jalan ini. Karena tuntutan kompensasi tunai tidak setujui," tegas Sulasih warga Temlokorejo.

Pertemuan itu di hadiri Budi Karyawan Comunnity Affairs Tripatra, Andik perwakilan MCL. Pertemuan yang berlangsung sejak jam 10.00 Wib dikawal ketat oleh jajaran kepolisan dari Polres Bojonegoro, Polsek Gayam dan bantuan kepolisian dari polsek terdekat lainnya.

Sementara pemblokiran juga dilakukan warga Dusun Sukorejo diakses road yang masuk wilayah Desa Bonorejo. Pemblokiran yang berlangsung sejak Minggu (16/7/2012) kemarin masih terus berlangsung karena tuntutan kompensasi tunai juga tak dipenuhi MCL maupun Tripatra. (sam/suko)

Kredit

Bagikan