Geger di Kompleks Makam Sunan Bonang Berakhir

user
nugroho 15 September 2012, 14:33 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - Edy Purnomo

Tuban – Perseteruan warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jatim dengan Yayasan Mabarot Sunan Bonang (YMSB) pengelola makam Sunan Bonang terkait pemasangan paving di kompleks makam setempat berakhir damai, Sabtu (15/9/2012).

Di lokasi makam di belakang masjid agung Tuban itu, beberapa paving yang sebelumnya terpasang sudah benar-benar dibongkar beberapa pekerja. Di samping itu sudah tidak ada lagi warga yang berada di lokasi pembongkaran paving. Padahal beberapa hari sebelumnya warga ngotot untuk membongkar sendiri paving yang dipasang yayasan tersebut.

“Mungkin karena sudah dituruti untuk dibongkar pekerja, Mas,” kata salah satu penjual minyak yang enggan disebutkan namanya.

Meski sebelumnya diberitakan pembongkaran paving resmi akan dilakukan oleh YMSB, namun warga kurang puas dan bersikeras dengan melakukan pembongkaran sendiri. Pihak Kelurahan Kutorejo sebagai penengah perseteruan dua belah pihak ini merasa perlu untuk mengadakan pertemuan kembali.

Tak kurang akal, dalam pertemuan itu mereka sengaja mengundang KH Kholilurrahman, ulama dan sesepuh agama di Tuban untuk mendinginkan suasana. “Kami sengaja mengundang Mbah kholil (sapaan akrab Kholilurrahman), agar bisa mencairkan suasana,” kata Lurah Kutorejo, Bambang Wahyu Sutejo, di Aula makam Sunan Bonang.

Agaknya cara pihak kelurahan kali ini ampuh, terbukti dengan adanya Mbah Kholil, suasana panas akibat luapan emosi ini menjadi cair. Apalagi saat kiai kharismatik ini memberikan beberapa wejangan kepada warga dan pengurus YMSB yang hadir.

“Semua orang pasti jasadnya ingin dikuburkan dekat dengan waliyullah, dan itu wajar,” ujar Mbah Kolil mengawali wejangannya.

Untuk itu, apabila pemasangan paving ini memang tidak mendapatkan ijin dari warga, maka tentunya paving harus dibongkar lagi. Agar warga tidak perlu khawatir tidak bisa di makamkan di tempat tersebut.

Pembongkaran harus dilakukan dengan kepala dingin, sehingga warga tidak perlu lagi terlibat dalam pembongkaran. Biarkan para pekerja saja yang membongkar paving yang sudah terlanjur dipasang.

Selain itu, tambah Mbah Kholil, spanduk besar dengan tulisan tuntutan untuk membongkar paving makam kepada YMSB segera dicopot. Agar tidak ada kesalahpahaman dari peziarah mengenai konflik ini.

“Spanduk besar di gerbang itu harus segera dilepas,” imbuh Mbah Kolil yang langsung disepakati oleh warga kelurahan Kutorejo dan YMSB tersebut. (edp/tbu)

Kredit

Bagikan