AJI Desak Polisi Ungkap Pelaku Pengeroyokan 2 Jurnalis di Bojonegoro

user
Nugroho 17 Januari 2023, 16:49 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Penyelidikan kasus pengeroyokan dua jurnalis di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah berjalan dua pekan. Namun Polres Bojonegoro belum juga berhasil mengungkap pelaku pengeroyokan yang ditengarai dilakukan massa beratribut salah satu perguruan silat.

Kasat Reskrim Polres Bojonegoro, AKP Girindra Wardhana saat dikonfirmasi mengatakan, penyelidikan kasus pengeroyokan yang dialami dua jurnalis itu masih proses. Namun, pihaknya mengaku kesulitan mengungkap kasus itu karena disebut minim saksi.

“Kendalanya minim saksi saat di lokasi kejadian, sampai saat ini yang dimintai keterangan baru korban,” ujarnya.

Mantan Kasatreskrim Polres Kota Kediri ini mengungkapkan, meski begitu penyelidikan kasus tersebut masih berjalan. Kasus pengeroyokan terhadap jurnalis di Bojonegoro itu dilakukan oleh sekelompok massa, yang menggunakan atribut salah satu perguruan pencak.

“Kemungkinan (pelaku) satu rombongan (penganiayaan dan penjarahan) yang di Kalitidu,” terangnya.

Perkara penganiayaan terhadap dua jurnalis Bojonegoro terjadi pada Kamis malam (5/1/2023), di Bundaran Adipura jalan Gajah Mada. Kedua korban adalah Misbahul Munir dari media siber jatimnow.com dan Mohammad Rizky dari media blokbojonegoro.com.

Akibat peristiwa itu kedua korban mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti mulut, perut dan dada. Kedua korban dikeroyok saat sedang mengambil foto massa konvoi.

Menanggapi hal itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro Dedi Mahdi mendesak polisi serius dalam mengungkap kasus kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

"Mestinya polisi tidak kesulitan mengungkap kasus ini, mengingat lokasi kejadian di tempat keramaian, selain itu salah satu korban (Riski), katanya juga mengenal salah seorang gerombolan itu," ungkapnya.

Selain meminta keterangan saksi, lanjut Dedi, penyidik seharusnya juga memanfaatkan teknologi. Karena kedua korban sempat melakukan perekaman video sebelum dikeroyok.

"Jangan sampai polisi terkesan lambat menangkap para pelaku, karena mereka (gerombolan pengeroyok) yang jumlahnya diperkirakan ratusan saat konvoi, memiliki basis massa besar," tegas Jurnalis INews itu.

Dedi menilai penyidik Polres Bojonegoro lamban mengungkap pelaku pengeroyokan terhadap dua jurnalis Bojonegoro. Padahal di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) terdapat televisi sirkuit tertutup (closed circuit television/CCTV) yang bisa digunakan sebagai alat untuk mengungkap pelaku pengeroyokan.

"Di sekitar TKP (bundaran Adipura) mestinya juga ada CCTV, baik itu milik Dishub maupun milik perorangan," pungkasnya.(jk)

Kredit

Bagikan