Awal Tahun, 2.414 Kasus PMK pada Hewan Ternak Ditemukan di Bojonegoro

user
Sasongko 20 Januari 2023, 23:00 WIB
untitled

Suarabanyuurip.com - Joko Kuncoro

Bojonegoro - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami peningkatan sejak dua pekan terakhir. Data dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) setempat tercatat ada 2.414 kasus PMK di Bojonegoro.

Kepala Disnakkan Bojonegoro, Catur Rahayu mengatakan, saat ini untuk kasus PMK di Bojonegoro mengalami peningkatan sejak awal tahun 2023 ini. Kasus PMK yang terjadi berbeda dengan kasus sebelumnya, dimana gejala sakit yang dialami oleh ternak tampak tidak terlalu parah.

"Namun, kematian pada ternak cukup tinggi," katanya, Jumat (20/1/2023).

Dia mengatakan, gejala yang sebelumnya pada tahun 2022 ditangani satu sampai dua kali sudah sembuh. Namun, di tahun 2023 ini berbeda meski sakitnya tidak terlalu parah tapi risiko kematiannya tinggi.

Sebagai langkah penanganan, kata dia, Disnakkan Bojonegoro bekerjasama dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan sejumlah laboratorium untuk melakukan pengambilan sampel pada ternak yang terjangkit untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

Selain itu, untuk upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran virus PMK. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, untuk melakukan penyemprotan desinfektan pada sejumlah pasar hewan dan menyalurkan sejumlah bantuan obat - obatan pada peternak.

"Hari ini kita lakukan penyemprotan di tiga pasar hewan, yakni di pasar hewan Bojonegoro yang berada di Kecamatan Balen, pasar hewan Sumberrejo, dan di pasar hewan yang berada di wilayah perbatasan yakni di Kecamatan Padangan," jelasnya.

Disnakkan telah melakukan koordinasi dengan Kepolisian dan TNI untuk melakukan pengamanan di wilayah perbatasan, khususnya pada waktu hari pasaran hewan.

Saat ini untuk kasus PMK di Kabupaten Bojonegoro berdasarkan data per 19 Januari 2022, terpantau ada sebanyak 2.414 kasus yang tersebar di 28 kecamatan. Dengan rincian 310 ekor sapi masih sakit atau dalam perawatan. Sementara sapi yang mati ada 50 ekor, dan yang dipotong paksa sebanyak 25 ekor.

"Jumlah kasusnya saat ini memang tinggi. Namun, diimbangi dengan jumlah kesembuhan, ada sebanyak 2.029 ekor ternak telah dinyatakan sembuh," tandasnya.

Catur pun mengimbau, para peternak untuk senantiasa menjaga kebersihan kandang dan segera melapor kepada dokter hewan yang bertugas di kecamatan. Juga, para peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan hewan ternak.

"Selain itu, juga rutin untuk melakukan penyemprotan desinfektan pada kandang, obat-obatan bantuan juga telah kami salurkan bisa langsung digunakan secara mandiri," katanya.(jk)

Kredit

Bagikan