Sayangkan Kemiskinan Bojonegoro Masih Tinggi

user
samian 25 Maret 2017, 17:01 WIB
untitled

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro -  Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro tahun 2016 mencapai Rp3,7 triliun dan merupakan tertinggi ke dua di Jawa Timur. Namun besaran APBD ini tidak berbading lurus dengan tingkat kesejahteraan warganya.

Kabupaten Bojonegoro masuk dalam 10 besar Kabupaten miskin di Jawa Timur. Tahun 2016 lalu, dari jumlah 29 Kabupaten dan 9 Kota di Provinsi Jawa Timur, Bojonegoro masuk dalam peringkat kesembilan.

"Sangat disayangkan sekali, dengan duit sebanyak itu tapi tingkat kemiskinannya masih tinggi," kata salah satu bakal calon bupati (Bacabup) Bojonegoro, Puji Dewanto saat ramah tamah dengan sejumlah wartawan di salah satu rumah makan di Bojonegoro.

Dengan APBD sebesar itu, menurut dia, seharusnya mampu mengurangi angka kemiskinan dengan program-program yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tingkat kesejahteraan masyarakat ini salah satunya dapat diukur dari indeks pembangunan manusia (IPM) yang indikatornya adalah kesehatan, pendidikan, dan daya beli masyarakat.

"Ini menandakan jika program yang dilaksanakan selama ini tidak tepat sasaran," tegas Kang PD-sapaan akrab Puji Dewanto.

Bojonegoro merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA) berupa migas. Sehingga 72 persen APBD Bojonegoro ini disokong dari pendapatan dana bagi hasil (DBH) Migas.

Namun, lanjut Kang PD, jika pendapatan itu tidak dapat dikelola dengan baik justru bisa membawa kutukan. Hal ini sudah terjadi di sejumlah daerah penghasil migas seperti Kalimantan, Riau, dan beberapa daerah lainnya.

"Salah satu kutukannya adalah tingkat kemiskinan yang tinggi," tandas pria asli Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Bojonegoro ini.

Selain itu, Kang PD juga menyoroti skema bagi hasil dalam penyertaan saham (Participating Interest/PI) 10% Blok Cepu antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) dengan mitranya, PT Surya Energi Raya (SER).

"Seharusnya bisa menggunakan deviden. Artinya, ada pembagian laba kepada pemegang saham  yakni BUMD. Bukan seperti yang terjadi sekarang ini, saham terbesar BUMD justru dimiliki mitranya," jelas pria yang berkerja sebagai konsultan kehutanan di Jakarta ini.

Meski perhelatan pemilihan bupati dan wakil bupati Bojonegoro masih tahun 2018 dan belum bisa memastikan dirinya akan berangkat dari partai mana, namun Kang PD berjanji akan membawa Bojonegoro lebih maju.

"Aku orang Bojonegoro. Karena itu aku merasa memiliki Bojonegoro, dan tentu ingin menjadikan Bojonegoro lebih baik lagi," pungkasnya.(suko)

Kredit

Bagikan